Minggu, 29 Maret 2009

Posted by Mas Budi Riyono Pekalongan on/at 18.43


Suatu hari, Anto didatangi sobat karibnya. Mau pinjam uang. Sebenarnya Anto keberatan, tetapi sungkan menolak. Akhirnya ia memberi pinjaman. Ketika utang itu tak kunjung dibayar, Anto tidak berani menagih. Lagi-lagi karena sungkan!

Sungkan adalah paduan rasa enggan, segan, malu bercampur hormat, yang membuat kita tidak berani berterus-terang. Kita jadi tidak jujur pada sesama dan diri sendiri. Berkata "ya" padahal "tidak", atau sebaliknya. Di mulut memuji, di hati memaki. Gara-gara sungkan, yang salah dibiarkan; yang benar tidak dibela; yang tidak becus dipertahankan. Kita sulit mengambil tindakan tegas.

Rasa sungkan bukanlah sikap kristiani. Alkitab mengajar kita berkata jujur dan tulus. Apa adanya. Menghormati orang bukan berarti harus selalu setuju dan mendukung tindakannya, termasuk tindakan yang fasik (Amsal 27:15). Sikap demikian justru termasuk "serong hati" atau "memutar mutar lidah" (Amsal 27:20). Tuhan memandangnya sebagai kekejian! Jika kita sungguh hormat dan cinta pada seseorang, pasti kita berani menegurnya dalam kasih. Tidak berpura-pura baik, seperti lawan yang mencium berlimpah-limpah (Amsal 27:6). Seorang sahabat menaruh kasih tiap waktu (Amsal 27: 17), dan kasih tidak suka kepalsuan, tetapi cinta kebenaran (1 Korintus 13:6).

Budaya sungkan jangan dipelihara. Ia membuat kita menjadi terlihat halus, tetapi tidak tulus. Terlihat ramah padahal pemarah. Mulai sekarang, mari bersikap apa adanya. Bukankah kita bisa bicara jujur tanpa menjadi kasar? Atau, menyatakan ketidaksetujuan tanpa mengurangi rasa hormat dan kasih? -JTI
~~ RASA SUNGKAN BUKAN TANDA KERAMAHAN MELAINKAN TOPENG KEMUNAFIKAN ~~



Penulis: Juswantori Ichwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar